Sindangkempeng berasal dari kata sindang dan kempeng. Menurut cerita salah satu sesepuh Desa Sindangkempeng, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, desa ini berawal dari perjalanan seorang tokoh bernama Ki Buyut Serang. Ia datang dari arah barat bersama muridnya, dalam keadaan dikejar balatentara sebuah kerajaan karena dianggap melakukan pelanggaran (yang tidak diketahui secara pasti).
Dalam pelariannya, Ki Buyut Serang dan muridnya sampai di sebuah hutan yang dipenuhi pohon kelapa. Ketika mereka berhenti untuk beristirahat karena kelelahan dan kehausan, Ki Buyut memegang salah satu pohon kelapa, dan secara ajaib pohon itu menunduk. Muridnya pun mengambil kelapa tersebut. Masyarakat meyakini bahwa tempat istirahat ini berada di Hutan Bubulak, sebelah barat Desa Sindangkempeng.[1]
Setelah memulihkan tenaga, mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur, menyusuri sungai. Dalam perjalanan, terdengar suara tangisan bayi. Setelah dicari, benar adanya seorang bayi ditemukan. Karena bayi itu masih membutuhkan susu dan mereka tidak mampu merawatnya, maka dibuatlah sebuah peti untuk menghanyutkan bayi tersebut di sungai, dengan harapan ada yang menemukannya.[1]
Bayi itu akhirnya terbawa arus hingga ke laut dan ditemukan oleh seorang pembesar di pesisir Cirebon. Sayangnya, bayi tersebut meninggal dunia dan dimakamkan di wilayah Kesambi, Cirebon, yang kini dikenal masyarakat sebagai Makam Jabang Bayi.[2]
Untuk mengenang peristiwa itu, Ki Buyut Serang dan muridnya membabat hutan tempat mereka menemukan si jabang bayi dan mendirikan sebuah pedukuhan.[1]
'''Sindangkempeng''' berasal dari kata ''sindang'' yang berarti silakan, dan ''kempeng'' yang berarti mampir. Maka, '''Sindangkempeng''' dapat dimaknai sebagai “silakan mampir”.[1]

